Langsung ke konten utama

1

Dulu semuanya berjalan begitu mudah. Kehidupan berhasil kulalui tanpa ada sesuatu yang menyiksa; masa kecil yang sederhana, masa remaja yang biasa- biasa saja. Semua berjalan seakan sudah semestinya. Tak ada yang istimewa.

Beranjak semakin dewasa pikiran ternyata semakin bercabang. Tak ada kata yang terlihat begitu sederhana untuk dilalui tanpa konflik. Terkadang aku harus mengambil jalan memutar untuk menemukan secuil cerita yang sebenarnya ada tak jauh dariku. Apa yang sebenarnya ku bicarakan sekarang?. Entah akupun tak sebegitu mengerti. Terkadang pembicaraan, kata-kata yang keluar terasa begitu tidak tepat, terasa begitu janggal dari tujuan aku mengeluarkan kata- kata itu.

Tapi begitulah. Semakin aku dewasa mungkin kata-kata dan semua perkara yang sederhana sebelumnya menjadi sedikit rumit. Mungkin cukup membuat aku mengkerut kening semalaman.

Apa yang salah dari berpikir? Tak ada sebenarnya, tak ada yang salah. Bahkan ketika aku berada dalam kondisi paling dasarpun tak ada yang bisa disalahkan-pun diriku. semua seakan sudah memiliki tugas masing-masing untuk membawaku terhadap keadaan itu.  Elemen yang satu dan lainnya, manusia satu dan lainnya, saling mengait membentuk pola yang begitu rumit untuk diurai satu persatu.

Tak ada yang bisa menahan umur barang satu detik, kedewasaan pun berjalan begitu misterius. Tak ada pola baku dalam pembentukan kedewasaan. Terkadang kata "dewasa" berhasil memerangkap anak kecil terkadang juga seorang lelaki yang baru memangku anak pertamanya baru mengerti bahwa dia baru saja masuk dalam proses kedewasaan.

Sekali lagi Maaf. jika ada yang membaca, dan bingung terhadap tulisan ini. Aku pun demikian. Tak ada tujuan khusus dalam menulis secuil keluh ini. aku sedang menerka  dan memcoba mencari kata ang tepat untuk hal di atas. Tapi tak menemukannya. jadi aku biarkan saja begini sebagaimana pertama aku menulis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terpesona "Cincin Merah Di Barat Sonne"

Terpesona "Cincin Merah Di Barat Sonne" 1 Awalnya aku membersihkan deretan rak buku di pojok kiri tempat tidurku. Sekitar satu meter dari pintu yang terbuka.  Membersihkan rak buku di malam hari sebenarnya bukan kebiasaanku.   Apalagi mengingat aku adalah orang yang cukup malas untuk meneliti dan menjaga buku bebas dari debu setiap hari,  Biasanya cukup membersihkannya 3 hari sekali selebihnya aku hanya menata agar buku-buku itu tidak terlihat berantakan. Aku membersihkan deretan panjang kumpulan kertas yang berisi ribuan kata itu sebagai penghilang jenuh setelah sekian waktu berkutat kepada materi kuliah yang besok akan diujikan,  Pekerjaan yang membosankan. Lalu setelahnya,  Mataku menemukan satu buku,  Sampul dominan biru laut monoton dengan judul yang cukup menarik, "Cincin Merah Di Barat Sonne, Andi Arsana, " bisikku sambi memiringkan kepala ke kanan untuk membaca judul lebih jelas. Aku ingat buku ini belum pernah aku baca,  Tidak semua buku y...

Sepenggal

Dokumentasi pribadi Selamat pagi. Menapak menuju persimpangan. Sunyi membikin kegamangan tak sudah-sudah. Ah adakah yang lebih pekat dari hitam kopimu?. Mari kembali berbincang tentang pilihan yang datang mendesak. Jika suatu pagi kau sudi tandang, kusuguhkan secangkir kopi yang mengepul, menemani kita yang sedang meruntut kisah rumit. Cepatlah, karena di satu waktu ada saatnya aku harus berjalan-bertemu persimpangan dan harus memilih dengan matang. Mari, aku punya kopi hitam yang akan menemani ceritaku yang panjang. Dan membosankan.

Tentang

Di kedalaman matamu, ada sewujud sungai. Tersembunyi di antara ribuan sinar. Sungai yang beriak pelan mengalur sepanjang pandang. Ada wujud yang disembunyikannya di tengah malam. Diantara ribuan lelap dan mimpi, Tentang sepi yang menyakitkan, tentang hal mudah yang tak terkatakan. Sungai itu begitu dalam, begitu kelam.