Langsung ke konten utama

Perihal memotret diam-diam

Dokumentasi pribadi
Perihal memotret diam-diam
Menurutmu kenapa para selebritis kadang kala merasa kesal jika diambil potretnya oleh paparazi padahal foto-foto mereka sudah begitu bertebaran di mana-mana? Padahal mereka sangat sering melakukan pemotretan, syuting, atau apapun yang menyebabkan wajah mereka akan dibidik-masuk tv-majalah-maupun di bungkus-bungkus kemasan suatu produk?.
Mungkin salah satu alasannya karena memotret secara sembunyi-sembunyi adalah hal yang melanggar privasi. Soal privasi, sebagian orang mungkin akan merasa risih dan terganggu jika batas batas privat itu dilangkahi secara sengaja oleh orang lain.
Dan tanggapan seseorang terhadap seorang yang begitu lancang itu berbeda-beda. Ada yang mungkin menganggapnya hal yang tidak perlu dipikirkan terlalu serius berpikir mereka bukan orang pengibg maupun artis. Mungkin ada yang akan begitu marah mencecar dengan semua kosa-kata celaan yang tersusun rapi diingatan ketika menangkap basah orang dengan kategori di atas. Ada juga jenis manusia yang  akan diam saja-mungkin akan menyingkir- tanpa memperpanjang masalah, tanpa susah payah adu argumen, memarahi ataupun misuh. Orang dengan kategori ini mungkin adalah pemikir, dia tidak banyak berkata-kata tapi merasa begitu tersinggung sayangnya tidak bisa ataupun tidak tega menguuarkan sumpah serapah, sayangnya beberapa orang dalam kategori ini akan langsung mengubah pernilaian terhadap orang tersebut mungkin karena menjadi begitu ilfil. entah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berawal dari Setapak Keyakinan

Berawal dari Setapak Keyakinan* Judul Buku   : Yasmin Penulis.         : Diyana Millah Islami Penerbit         : Bunyan (PT Bentang Pustaka) Tahun Terbit : pertama, 2014 ISBN.             : 978-602-291-013-8 Diyana Millah Islami adalah penulis asal Situbondo yang merupakan pemenang pertama dalam lomba menulis 1000 wajah muslimah yang didakan bentang pustaka. Novel yang berhasil menarik perhatian para juri itu berjudul Yasmin. Dalam novel Yasmin ini berkisah tentang seorang gadis kecil bernama Yasmin di daerah pinggiran kota Jember yang sangat ingin merasakan menjadi seorang santri, tapi keinginan kuatnya tersebut harus juga berhadapan dengan keteguhan hati emak untuk tidak mengizinkan putrinya dengan alasan tak adanya yang menjaga sang keponakan yang ditinggal mati ibunya dan tak ada yang membantu sang ibu dalam keperluan mengurus keperluan rumah tangga karena ibunya harus menggantikan sang ayah meng...

Terpesona "Cincin Merah Di Barat Sonne"

Terpesona "Cincin Merah Di Barat Sonne" 1 Awalnya aku membersihkan deretan rak buku di pojok kiri tempat tidurku. Sekitar satu meter dari pintu yang terbuka.  Membersihkan rak buku di malam hari sebenarnya bukan kebiasaanku.   Apalagi mengingat aku adalah orang yang cukup malas untuk meneliti dan menjaga buku bebas dari debu setiap hari,  Biasanya cukup membersihkannya 3 hari sekali selebihnya aku hanya menata agar buku-buku itu tidak terlihat berantakan. Aku membersihkan deretan panjang kumpulan kertas yang berisi ribuan kata itu sebagai penghilang jenuh setelah sekian waktu berkutat kepada materi kuliah yang besok akan diujikan,  Pekerjaan yang membosankan. Lalu setelahnya,  Mataku menemukan satu buku,  Sampul dominan biru laut monoton dengan judul yang cukup menarik, "Cincin Merah Di Barat Sonne, Andi Arsana, " bisikku sambi memiringkan kepala ke kanan untuk membaca judul lebih jelas. Aku ingat buku ini belum pernah aku baca,  Tidak semua buku y...

pekat kopi

Kau berjalan terlalu jauh, padahal disini gulita Ada kerikil yang kau rasakan perlahan mengelitik kakimu Dokumentasi pribadi. Ada lumpur yang basah singgah disana Bermain dengan jemari Tetap saja kau meraba masa lalu Disana ada kita menjelma kopi Hitam-pekat-sedikit manis. Ada satu yang mengendap di cangkir itu; hatiku hatimu. Mari menyeruput sedikit. Ada lelah disana, searoma napas kita yang terengah bersama menyisakan ruap yang membuat semakin nikmat Kopi adalah kita ketika zaman tak lagi usang Menikmati rasa bersama, ada puisi yang tiba tiba saja tercipta di tembok itu Puisi tentang kisah kita yang tak semanis kisah rangga dan cinta Ah, kawan kopi kita tinggal sedikit, lalu habis Ada yang enggan pergi dari masa itu; ingatan Ada yang tersisa di cangkir kopi ; pekat hatiku hatimu.