Langsung ke konten utama

Percakapan

Wanita itu duduk menunggu pesanan di sebuah cafe teduh yang baru pertama didatanginya. Lelaki yang seharian ditemaninya mengajak untuk sekedar menyeruput kopi. Ah lelaki yang begitu baik.

"Silahkan," pemuda yang mungkin berumur 20an mengantar pesanan yang mereka tunggu. tersenyum ramah meletakan satu cup ice cream coklat di depanku, setelah itu kopi espresso tersaji manis di depannya.

Lelaki itu terkekeh geli setelah pramusaji undur, "kita sudah harus berganti selera sepertinya".
"Sudahlah, tak semua harus kau pikirkan serius," wanitanya tersenyum tipis. Menukar posisi minuman mereka.
Selalu seperti itu, pesanan tertukar. Prianya adalah lelaki yang tidak bisa meminum kopi meski seteguk, sedangkan si wanita adalah penikmat pahitnya kopi.
Lucunya sebagian orang menganggap jenis minuman juga melingkupi jenis kelamin di dalamnya. Kopi untuk pria, coklat ataupun ice cream untuk wanita.

"Coba kurangi untuk minum kopi malam hari, tak baik untuk kesehatan lambung".
Wanita itu tertawa memperlihatkan lesung pipi yang samar, "akan aku coba sungguh". Lelaki itu hanya merengut sambil menikmati ice creamnya. Selalu seperti itu. wanitanya tak benar-benar bisa meninggalkan kopi hitam sedikit gula yang diraciknya sendiri. buku dan kopi selalu bersua mesra di setiap malam wanita itu. Begitu mesra jika wanitanya sudah bertemu deretan buku dan kopi, seringkali malah mengabaikan pesan yang dikirim si lelaki. Menyebalkan.

Ada banyak yang dibicarakan lelaki dan perempuannya, tentang tetangga yang menyebalkan, angan-angan di masa depan, hutang yang telah jatuh tempo sampai bayi di gendongan yang begitu menggemaskan.  keduanya begitu menikmati waktu yang berlalu. selalu begitu menyenangkan. Akan tetapi terkadang nanti akan ada saja sekelumit hal yang akan membuatnya mengerutkan dahi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berawal dari Setapak Keyakinan

Berawal dari Setapak Keyakinan* Judul Buku   : Yasmin Penulis.         : Diyana Millah Islami Penerbit         : Bunyan (PT Bentang Pustaka) Tahun Terbit : pertama, 2014 ISBN.             : 978-602-291-013-8 Diyana Millah Islami adalah penulis asal Situbondo yang merupakan pemenang pertama dalam lomba menulis 1000 wajah muslimah yang didakan bentang pustaka. Novel yang berhasil menarik perhatian para juri itu berjudul Yasmin. Dalam novel Yasmin ini berkisah tentang seorang gadis kecil bernama Yasmin di daerah pinggiran kota Jember yang sangat ingin merasakan menjadi seorang santri, tapi keinginan kuatnya tersebut harus juga berhadapan dengan keteguhan hati emak untuk tidak mengizinkan putrinya dengan alasan tak adanya yang menjaga sang keponakan yang ditinggal mati ibunya dan tak ada yang membantu sang ibu dalam keperluan mengurus keperluan rumah tangga karena ibunya harus menggantikan sang ayah meng...

Terpesona "Cincin Merah Di Barat Sonne"

Terpesona "Cincin Merah Di Barat Sonne" 1 Awalnya aku membersihkan deretan rak buku di pojok kiri tempat tidurku. Sekitar satu meter dari pintu yang terbuka.  Membersihkan rak buku di malam hari sebenarnya bukan kebiasaanku.   Apalagi mengingat aku adalah orang yang cukup malas untuk meneliti dan menjaga buku bebas dari debu setiap hari,  Biasanya cukup membersihkannya 3 hari sekali selebihnya aku hanya menata agar buku-buku itu tidak terlihat berantakan. Aku membersihkan deretan panjang kumpulan kertas yang berisi ribuan kata itu sebagai penghilang jenuh setelah sekian waktu berkutat kepada materi kuliah yang besok akan diujikan,  Pekerjaan yang membosankan. Lalu setelahnya,  Mataku menemukan satu buku,  Sampul dominan biru laut monoton dengan judul yang cukup menarik, "Cincin Merah Di Barat Sonne, Andi Arsana, " bisikku sambi memiringkan kepala ke kanan untuk membaca judul lebih jelas. Aku ingat buku ini belum pernah aku baca,  Tidak semua buku y...

pekat kopi

Kau berjalan terlalu jauh, padahal disini gulita Ada kerikil yang kau rasakan perlahan mengelitik kakimu Dokumentasi pribadi. Ada lumpur yang basah singgah disana Bermain dengan jemari Tetap saja kau meraba masa lalu Disana ada kita menjelma kopi Hitam-pekat-sedikit manis. Ada satu yang mengendap di cangkir itu; hatiku hatimu. Mari menyeruput sedikit. Ada lelah disana, searoma napas kita yang terengah bersama menyisakan ruap yang membuat semakin nikmat Kopi adalah kita ketika zaman tak lagi usang Menikmati rasa bersama, ada puisi yang tiba tiba saja tercipta di tembok itu Puisi tentang kisah kita yang tak semanis kisah rangga dan cinta Ah, kawan kopi kita tinggal sedikit, lalu habis Ada yang enggan pergi dari masa itu; ingatan Ada yang tersisa di cangkir kopi ; pekat hatiku hatimu.