Langsung ke konten utama

Sesederhana racikan kopi

Siapa yang tidak mengenal kopi? Sedemikian terkenal nya hingga kopi mungkin adalah salah satu hal yang dikenal hampir seluruh masyarakat dunia pun di Indonesia. Ada macam kebiasaan minum kopi yang mengakar kuat di dalam masyarakat kita.

Mari bertamasya ke pulau garam Madura. Disana kita akan disuguhkan satu keseharian unik nan sederhana dimana dimana kopi telah menjadi satu diantara hal yang harus ada untuk disuguhkan. ketika ada tamu, biasanya para tamu tak akan diberi sebuah penawaran tentang apa yang akan diminum, semua dipukul rata dengan penyuguhan kopi untuk semua tamu tanpa bertanya apakah tamu tersebut suka kopi atau tidak. Saya kira ini bukanlah bentuk ketidaksopanan, akan tetapi ada satu kebiasaan yang mengakar, kopi adalah satu simbol untuk menghormati tamu dalam pandangan mereka dalam artian tamu itu ya harus disuguhkan kopi baik dia suka ataupun tidak. Kopi yang disuguhkan pun sederhana sesederhana penyambutan orang desa yang akan selalu tampil apa adanya tanpa sebuah topeng. Kopi yang sudah disangrai biasanya langsung ditumbuk dengan alu itupun tidak sampai halus sehingga ketika diseduh dan disajikan ada semacam topping yang turut bisa dinikmati. Dulu, ketika bertandang ke Madura pertama kali saya sempat menanyakan kenapa bubuk kopinya dibuat tidak halus saat ditumbuk sehingga membuat kopi yang tidak begitu halus itu muncul di permukaan cangkir saat diseduh? Sebagian mereka menjawab sambil tersenyum, katanya agar ada sesuatu untuk dikunyah jadi saya pikir mungkin sama seperti pepatah sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui-sekali minum kopi sekalian mendapatkan cemilan untuk dikunyah. Dan perjalanan kopi mungkin adalah perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan, kopi memperbanyak tampilan dan variasi, banyak macam dan cara mencicipi seperti kopi latte, capucino, ada kopi yang di mix dengan bahan a, bahan b, dan yang lainnya. Saya rasa itu hal lumrah, kopi akan terus tumbuh dan berkembang --akan ada penemuan-penemuan segar dan baru untuk sebuah hal biasa yang hakikat nya luar biasa bernama kopi. Saya adalah satu dari jutaan bahkan milyaran orang yang menyukai kopi. Saya suka kopi, tetapi kopi yang sederhana, kopi hitam yang cukup diseduh dengan air panas dan ditambahi gula. Kopi yang tetap menguarkan rasa pahit ketika berkenalan dengan lidah saya, bukan kopi dengan sejuta variasi yang sekarang menjamur dan menjadi tren dalam lingkungan masyarakat kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berawal dari Setapak Keyakinan

Berawal dari Setapak Keyakinan* Judul Buku   : Yasmin Penulis.         : Diyana Millah Islami Penerbit         : Bunyan (PT Bentang Pustaka) Tahun Terbit : pertama, 2014 ISBN.             : 978-602-291-013-8 Diyana Millah Islami adalah penulis asal Situbondo yang merupakan pemenang pertama dalam lomba menulis 1000 wajah muslimah yang didakan bentang pustaka. Novel yang berhasil menarik perhatian para juri itu berjudul Yasmin. Dalam novel Yasmin ini berkisah tentang seorang gadis kecil bernama Yasmin di daerah pinggiran kota Jember yang sangat ingin merasakan menjadi seorang santri, tapi keinginan kuatnya tersebut harus juga berhadapan dengan keteguhan hati emak untuk tidak mengizinkan putrinya dengan alasan tak adanya yang menjaga sang keponakan yang ditinggal mati ibunya dan tak ada yang membantu sang ibu dalam keperluan mengurus keperluan rumah tangga karena ibunya harus menggantikan sang ayah meng...

Tentang

Di kedalaman matamu, ada sewujud sungai. Tersembunyi di antara ribuan sinar. Sungai yang beriak pelan mengalur sepanjang pandang. Ada wujud yang disembunyikannya di tengah malam. Diantara ribuan lelap dan mimpi, Tentang sepi yang menyakitkan, tentang hal mudah yang tak terkatakan. Sungai itu begitu dalam, begitu kelam.