Langsung ke konten utama

Menjelang dini hari


Dahulu waktu mengendap diamdiam dan muncul membawa uluran tangan dari perjanjian yang tak terduga: pertemanan capung dan kupu-kupu mengisi malam-malam senyap.

Waktu-artian aku dan kamu- melahirkan anak serupa kata-kata yang saling bercakap dengan malam yang berlari menuju ketiadaan. Malam ini, hujan menjadi begitu sabar membuahi bumi, sedang disana ada dinding tak kasat mata yang dibangun: menggoda bahwa ada bau laut, ikan menggelepar di belai angin, dan doa ulat yang mengiris hati ingin menjelma kupu-kupu di sampingmu.

Sebab sesuatu yang berasal dari titik-titik, membuat segala menjadi tak terduga bagiku. Bagimu sesuatu (serupa siulan dan nyanyian ombak) menghantam membikin merinding ketakutan merapatkan selimut, "aku sendiri" katamu mencoba menebas bayangan yang kau ciptakan sendiri.

Demi percakapan tengah malam yang. menawarkan pertemanan aneh dengan barang-barang aneh dan suasana yang mendadak saja berubah aneh. Membuatku candu. Aku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terpesona "Cincin Merah Di Barat Sonne"

Terpesona "Cincin Merah Di Barat Sonne" 1 Awalnya aku membersihkan deretan rak buku di pojok kiri tempat tidurku. Sekitar satu meter dari pintu yang terbuka.  Membersihkan rak buku di malam hari sebenarnya bukan kebiasaanku.   Apalagi mengingat aku adalah orang yang cukup malas untuk meneliti dan menjaga buku bebas dari debu setiap hari,  Biasanya cukup membersihkannya 3 hari sekali selebihnya aku hanya menata agar buku-buku itu tidak terlihat berantakan. Aku membersihkan deretan panjang kumpulan kertas yang berisi ribuan kata itu sebagai penghilang jenuh setelah sekian waktu berkutat kepada materi kuliah yang besok akan diujikan,  Pekerjaan yang membosankan. Lalu setelahnya,  Mataku menemukan satu buku,  Sampul dominan biru laut monoton dengan judul yang cukup menarik, "Cincin Merah Di Barat Sonne, Andi Arsana, " bisikku sambi memiringkan kepala ke kanan untuk membaca judul lebih jelas. Aku ingat buku ini belum pernah aku baca,  Tidak semua buku y...

Sepenggal

Dokumentasi pribadi Selamat pagi. Menapak menuju persimpangan. Sunyi membikin kegamangan tak sudah-sudah. Ah adakah yang lebih pekat dari hitam kopimu?. Mari kembali berbincang tentang pilihan yang datang mendesak. Jika suatu pagi kau sudi tandang, kusuguhkan secangkir kopi yang mengepul, menemani kita yang sedang meruntut kisah rumit. Cepatlah, karena di satu waktu ada saatnya aku harus berjalan-bertemu persimpangan dan harus memilih dengan matang. Mari, aku punya kopi hitam yang akan menemani ceritaku yang panjang. Dan membosankan.

Tentang

Di kedalaman matamu, ada sewujud sungai. Tersembunyi di antara ribuan sinar. Sungai yang beriak pelan mengalur sepanjang pandang. Ada wujud yang disembunyikannya di tengah malam. Diantara ribuan lelap dan mimpi, Tentang sepi yang menyakitkan, tentang hal mudah yang tak terkatakan. Sungai itu begitu dalam, begitu kelam.